Home > Basketball

Pembinaan, Regulasi hingga Prestasi Timnas Jadi Sorotan Diskusi Ekosistem Basket Indonesia oleh Jusraga

Jusraga menggelar diskusi bertajuk Satu Ekosistem Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri dan Prestasi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Image
Taufani Rahmanda Editor : Taufani Rahmanda
Para pembicara dalam acara Satu Ekosistem Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri dan Prestasi yang digelar Jusraga di Jakarta pada 6 Oktober 2026. (Foto: Istimewa/Grafis: Skor.id)
Para pembicara dalam acara Satu Ekosistem Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri dan Prestasi yang digelar Jusraga di Jakarta pada 6 Oktober 2026. (Foto: Istimewa/Grafis: Skor.id)

SKOR.id - Kumpulan pewarta basket yang tergabung dalam Jurnalis Suka dan Peduli (Jusraga) telah menggelar diskusi bertajuk “Satu Ekosistem Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri dan Prestasi”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Meeting Room Best Western Senayan, Jakarta, pada Selasa (6/10/2026) sore, dan menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan basket di Tanah Air.

Termasuk Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (DPP Perbasi), Nirmala Dewi, serta Direktur Utama (Dirut) Indonesian Basketball League (IBL), Junas Miradiarsyah.

Diskusi Jusraga itu membahas berbagai aspek dalam ekosistem basket Indonesia, mulai dari pembinaan pemain, kompetisi, industri, hingga upaya meningkatkan prestasi tim nasional (timnas) basket Indonesia.

Baca Juga: Super League 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen

Baca Juga: Championship 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen

“Ini penting juga buat kita untuk menerima masukan, dan kemudian kita juga memberikan informasi. Karena tidak ada organisasi yang sukses kalau komunikasinya tidak baik,” ujar Nirmala Dewi.

“Ini merupakan bagian dari wadah komunikasi antara kita sebagai federasi dengan teman-teman media atau dengan semua pencinta basket yang ada di ruangan ini,” ia menambahkan.

Sementara itu Junas Miradiarsyah menilai peran media merupakan salah satu elemen penting dalam mendorong ekosistem bola basket Indonesia jadi lebih baik selain liga, federasi, klub, pemain, serta suporter

“Yang dilakukan hari ini, diskusi, tidak lain adalah untuk selalu melahirkan pemikiran-pemikiran, kemudian solusi-solusi, baik jangka pendek maupun jangka panjang,” Junas menambahkan.

“Supaya olahraga bola basket ini terus berprestasi. Kami dalam IBL punya satu peran untuk mendukung federasi, dan harus kita dukung untuk menciptakan prestasi nasional yang terbaik yang diinginkan,” lanjutnya.

Dalam diskusi tersebut, turut dibahas dampak yang dirasakan sejumlah tim melalui format kompetisi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, termasuk penerapan sistem kandang dan tandang.

Salah satu poin yang turut menjadi perhatian adalah arah regulasi penggunaan pemain asing pada kompetisi IBL musim 2027, yakni maksimal dua yang main di lapangan untuk setiap klub.

Para peserta acara Satu Ekosistem Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri dan Prestasi yang digelar Jusraga di Jakarta pada 6 Oktober 2026. (Istimewa)
Para peserta acara Satu Ekosistem Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri dan Prestasi yang digelar Jusraga di Jakarta pada 6 Oktober 2026. (Istimewa)

Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang dan kesempatan lebih besar kepada para pemain lokal, untuk mendapatkan menit bermain serta berkembang melalui kompetisi IBL.

Diskusi juga menyoroti pentingnya pembinaan kelompok usia muda agar semakin banyak pemain lokal yang dapat masuk ke dalam ekosistem liga, dan pada akhirnya memperbesar pilihan pemain untuk kebutuhan timnas.

Owner RANS Simba Bogor, Norman Sebastian, yang jug hadir langsung turut menyampaikan harapannya terhadap perkembangan ekosistem basket Indonesia.

Menurutnya, forum seperti diskusi yang digelar Jusraga dapat menjadi salah satu langkah untuk mendorong basket Indonesia berkembang, tidak hanya dari sisi prestasi, tetapi juga sebagai sebuah industri.

Adapun sejumlah legenda dan mantan pemain nasional seperti Fictor Roring dan Wahyu Widayat Jati juga memberikan pandangan mengenai pentingnya memberikan peran lebih besar kepada pemain lokal.

Mereka menginginkan kompetisi lokal dapat berlangsung secara panjang dan konsisten sehingga pemain Indonesia memiliki ruang yang cukup untuk berkembang. Pandangan itu serupa dengan pencinta serta pemerhati basket yang hadir.

Seraya Augie Fantinus, Udjo Project Pop, serta Bima Marzuki, yang sepakat ke depan IBL dapat jadi wadah bagi pemain lokal untuk berkembang, sekaligus salah satu fondasi membangun kekuatan Timnas basket Indonesia.

Forum Jusraga tersebut menjadi ruang bersama bagi federasi, liga, klub, mantan pemain, pencinta basket, dan media untuk menyampaikan gagasan serta mencari solusi bagi pengembangan basket Indonesia secara menyeluruh.

Dengan komunikasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan, ekosistem basket nasional diharapkan semakin kuat sehingga mampu melahirkan kompetisi yang sehat, pemain lokal berkualitas, industri yang berkelanjutan, serta prestasi Timnas Indonesia yang lebih baik.

"IBL dan perbasi perlu mempelajari success story proteksi pemain lokal lewat regulasi di liga China, Korsel, Taiwan bahkan liga Spanyol. Kalau mereka bisa kenapa kita nggak bisa?,” kata Bima.

× Image