Home > World

Empat Kompetisi Elite Eropa Desak FIFA Berbenah

Bundesliga, La Liga, Lega Calcio Serie A, dan Premier League, menyuarakan perlunya reformasi tata kelola di tubuh FIFA.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Ilustrasi FIFA. (Grafis: Dede Sopatal Mauladi/Skor.id) 
Ilustrasi FIFA. (Grafis: Dede Sopatal Mauladi/Skor.id)

SKOR.id — Empat kompetisi elite Eropa, Bundesliga, La Liga, Lega Calcio Serie A, dan Premier League, menyuarakan perlunya reformasi tata kelola di tubuh FIFA. Mereka menilai sepak bola dunia membutuhkan institusi global yang kuat, tetapi kekuatan tersebut harus berjalan beriringan dengan akuntabilitas, transparansi, dan mekanisme pengawasan yang efektif.

Seruan tersebut disampaikan dalam sebuah pernyataan bersama bertajuk “Untuk Menyatukan Sepak Bola, FIFA Harus Berbenah”. Keempat liga menyatakan bahwa Piala Dunia memang menjadi puncak olahraga sepak bola, tetapi fondasi permainan justru dibangun setiap pekan melalui kompetisi domestik, stadion, klub, pemain, suporter, dan komunitas lokal di berbagai belahan dunia.

Menurut mereka, fondasi tersebut dalam beberapa tahun terakhir menghadapi persoalan tata kelola yang mendasar. Keempat liga juga menyoroti munculnya gagasan FIFA Forward Enterprise (FFE), yang sebelumnya dipromosikan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino sebelum akhirnya mendapat penolakan luas dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola. FIFA sendiri pada Juli 2026 menjelaskan bahwa FFE dirancang untuk mengonsolidasikan aktivitas komersial dan operasional turnamen FIFA, dengan FIFA tetap mempertahankan kendali atas tata kelola, kompetisi, kalender pertandingan, serta keputusan regulasi dan olahraga.

Dalam pernyataan bersama tersebut, Bundesliga, La Liga, Serie A, dan Premier League menilai persoalan yang muncul tidak cukup diselesaikan hanya melalui perubahan prosedural sebagai dampak dari polemik FFE.

Baca Juga: John Herdman Tegaskan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Tampil Beda dengan Piala AFF 2026

Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026: Jadwal, Hasil, dan Klasemen Lengkap

“Presiden FIFA kini telah mengakui perlunya reformasi, tetapi tidak cukup jika hanya mengeksplorasi perubahan proses yang bersifat permukaan sebagai dampak dari FFE (FIFA Forward Enterprise) reformasi tata kelola yang mendasar sangat penting untuk memulihkan batas-batas konstitusional yang jelas di dalam FIFA, termasuk keyakinan bahwa setiap masalah disipliner tetap terbukti terlindungi dari campur tangan politik,” tulis pernyataan bersama tersebut.

Mereka menegaskan bahwa masa depan FIFA tidak hanya menyangkut kepemimpinan organisasi, tetapi juga bagaimana kekuasaan di dalam badan pengatur sepak bola dunia tersebut dijalankan.

“Masa depan FIFA penting bagi setiap orang yang peduli terhadap sepak bola, karena olahraga kita tidak dapat berkembang secara global jika fondasinya dirusak,” tegasnya.

Keempat liga juga menilai persoalan tata kelola FIFA tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan satu individu.

“Masalah tata kelola FIFA jauh melampaui peran satu individu. Pertanyaan yang lebih luas adalah apakah Presiden FIFA secara bersamaan seharusnya memiliki kekuasaan regulasi, komersial, dan politik sebesar itu tanpa mekanisme checks and balances yang efektif, termasuk persetujuan dari para pemangku kepentingan yang terdampak,” tuturnya.

Mereka mengingatkan bahwa lebih dari satu dekade lalu FIFA telah menjalankan proses reformasi setelah muncul persoalan hukum yang melibatkan sejumlah pejabat senior sepak bola.

“Namun, sekali lagi, sepak bola telah mengalami salah satu penyalahgunaan kekuasaan terbesar dalam sejarah FIFA.”

Keempat liga menyatakan berbicara bersama sebagai anggota pendiri European Leagues dan World Leagues Association. Mereka menganggap ekspansi kewenangan FIFA memiliki dampak langsung terhadap sistem kompetisi domestik di berbagai negara.

“Masing-masing dari kami merupakan pengelola sistem profesional yang menghubungkan akar rumput olahraga kita dengan kompetisi domestik dan internasional tingkat elite.”

Menurut mereka, liga domestik memiliki kontribusi yang jauh lebih luas dibanding sekadar penyelenggaraan pertandingan.

“Dengan menyatukan jutaan orang, liga sepak bola domestik di seluruh dunia memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar: Mendukung industri, menciptakan lapangan kerja, dan berinvestasi dalam pengembangan akar rumput, sekaligus memberikan kontribusi pendapatan pajak yang signifikan bagi komunitas kami.”

Soroti Dampak Kalender Internasional

Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah International Match Calendar (IMC). Mereka menyoroti bahwa hanya sebagian kecil pemain profesional dunia yang tampil di Piala Dunia, sementara mayoritas pemain dan klub tetap menjalankan kompetisi domestik.

“Sekitar satu persen dari pemain profesional dunia berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA, sementara para pemain lainnya dan klub mereka berhenti berkompetisi ketika liga domestik dihentikan.”

Namun, menurut mereka, keputusan besar terkait kalender pertandingan internasional tetap memiliki dampak luas terhadap kompetisi domestik.

“Namun, ketika FIFA mengambil keputusan-keputusan besar secara sepihak yang secara langsung memengaruhi kami – misalnya, dengan memperluas International Match Calendar (IMC) dan memperpanjang periode ketika kompetisi domestik harus dihentikan – para pemangku kepentingan yang paling terdampak tidak dilibatkan secara berarti dalam proses pengambilan keputusan.”

“Tata kelola FIFA yang memusatkan kekuasaan regulasi, komersial, dan politik tanpa batas pada satu jabatan, sementara menempatkan para pemangku kepentingan yang terdampak hanya dalam status sebagai penasihat, tidak sesuai dengan tujuan yang seharusnya.”

Keempat liga juga mengaitkan persoalan tersebut dengan perkembangan yurisprudensi internasional mengenai batas kewenangan badan pengatur olahraga.

“Ketika FIFA berupaya menyelenggarakan kompetisi, FIFA juga harus menetralkan konflik kepentingan yang melekat melalui aturan dan kriteria yang transparan, objektif, nondiskriminatif, dan proporsional, yang diadopsi secara inklusif serta tunduk pada peninjauan independen yang efektif.”

“Keluhan mengenai IMC yang diajukan oleh liga-liga kepada Komisi Eropa pada Oktober 2024 merupakan konsekuensi dari kerangka tata kelola yang cacat, di mana FIFA dapat menggunakan kewenangan regulasinya untuk memajukan tujuan komersialnya sendiri tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap keberlanjutan ekonomi dan sosial kompetisi nasional yang memengaruhi seluruh pemangku kepentingan.”

“Hal ini harus berubah sekarang demi kepentingan sepak bola,” tegas mereka.

Tiga Agenda Reformasi FIFA

Karena itu, Bundesliga, La Liga, Serie A, dan Premier League menyerukan pembentukan struktur tata kelola baru di FIFA yang menurut mereka harus transparan, objektif, proporsional, dan inklusif.

Mereka menyodorkan tiga komitmen utama.

Pertama, memberikan peran nyata kepada pemangku kepentingan yang terdampak dalam pengambilan keputusan.

Untuk hal ini, FIFA harus membentuk badan permanen yang mewakili para pemangku kepentingan utama, termasuk asosiasi nasional, liga, klub, dan pemain dari sepak bola putra maupun putri.

Badan baru ini harus mendapatkan informasi secara penuh mengenai inisiatif-inisiatif baru dan memiliki peran yang berarti dalam proses pengambilan keputusan FIFA.

Persetujuan dari kelompok pemangku kepentingan yang terdampak langsung oleh suatu keputusan harus diwajibkan untuk keputusan yang berkaitan, antara lain, dengan kalender, ketenagakerjaan, kompetisi, dan aset-aset utama sepak bola.

Kedua, memastikan pengambilan keputusan berdasarkan bukti.

Setiap proposal besar FIFA harus diawali dengan alasan yang didefinisikan secara jelas, bukti pendukung, dan penilaian independen, yang dipublikasikan sebelum keputusan apa pun diambil, mencakup pemain, klub, liga, dan pendukung, serta mengevaluasi dampaknya terhadap seluruh pemangku kepentingan dan perkembangan sepak bola.

Berbagai pilihan harus diteliti dan keputusan akhir harus disertai dengan penjelasan yang dipublikasikan.

Ketiga, melindungi peran regulasi FIFA dari fungsi komersialnya.

Peran FIFA sebagai regulator dan penjaga olahraga harus dilindungi dari fungsi komersialnya sebagai penyelenggara kompetisi global melalui perlindungan kelembagaan yang kuat untuk menjaga kepercayaan, legitimasi, dan akuntabilitas.”

Badan etika, pengawasan keuangan, dan pemilihan harus memiliki mekanisme penunjukan, anggaran, dan kewenangan yang benar-benar independen dari administrasi FIFA dan kepresidenan.

Reformasi ini akan memastikan bahwa hak-hak utama FIFA dalam penyelenggaraan kompetisi, termasuk Piala Dunia, dipegang sebagai amanah untuk seluruh sepak bola.

Keempat liga kemudian mengarahkan seruan reformasi tersebut kepada kandidat Presiden FIFA berikutnya.

“Pada masa yang sangat penting bagi olahraga kita ini, kami mendorong para kandidat Presiden FIFA untuk mendukung prinsip-prinsip ini dan, dalam 100 hari pertama masa jabatan presiden berikutnya, menyelenggarakan Governance Convention yang dipimpin secara independen dan mewakili asosiasi anggota serta komunitas sepak bola yang lebih luas, dengan mandat untuk menyampaikan laporan secara terbuka dalam waktu enam bulan.”

Mereka juga meminta seluruh kandidat Presiden FIFA harus mempublikasikan program reformasi mereka sendiri, memperdebatkan isinya, dan mematuhi aturan pemilihan yang adil.

“Sumber daya keuangan, hukum, komunikasi, dan pemasaran FIFA, serta dana pengembangan sepak bolanya, harus tetap sepenuhnya netral dan tidak pernah menciptakan keuntungan elektoral bagi kandidat mana pun.”

Seruan tersebut turut ditujukan kepada berbagai elemen sepak bola dunia.

“Kami mengundang konfederasi, asosiasi nasional, liga, klub, serikat pemain, kelompok pendukung, dan otoritas publik dari setiap benua untuk bergabung dalam upaya ini dengan mendukung prinsip-prinsip tersebut.”

“Sekarang adalah saatnya untuk menentukan bukan hanya siapa yang akan memimpin FIFA, tetapi juga bagaimana FIFA harus dipimpin.”

“Liga memiliki peran penting dalam proses ini, dan kami ingin memastikan bahwa suara setiap liga didengar.”

Pada akhirnya, mereka tetap menegaskan pentingnya keberadaan FIFA sebagai badan pengatur sepak bola dunia. Namun, kekuatan tersebut dinilai harus disertai mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

“Sepak bola membutuhkan FIFA sebagai institusi yang kuat. Namun, kekuatan harus diimbangi dengan akuntabilitas. Kewenangan FIFA hanya dapat berasal dari berbagi tanggung jawab, menerima pengawasan, dan mendapatkan kepercayaan.”

Sumber: La Liga

× Image