Home > Timnas Indonesia

Setelah Kontroversi Timnas Indonesia vs Singapura, Kasus Laos Buat Integritas AFF Dipertanyakan

Usai ada keputusan wasit yang kontroversial, muncul dugaan match-fixing pada penyelenggaraan Piala AFF 2026.
Image
Skor Indonesia Editor : Taufani Rahmanda
ASEAN Championship 2026 atau Hyundai Cup 2026 atau Piala AFF 2026. (Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)
ASEAN Championship 2026 atau Hyundai Cup 2026 atau Piala AFF 2026. (Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)

SKOR.id - Integritas ASEAN Football Federation (AFF) dan penyelenggaraan Hyundai ASEAN Cup 2026 atau ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF 2026 kembali menjadi sorotan.

Setelah ada keputusan wasit yang kontroversial dalam laga fase grup yang mempertemukan Timnas Indonesia vs Singapura pada 7 Agustus 2026, kini terkuak kasus baru yang dialami Laos.

Federasi Sepak Bola Laos (LFF) telah meminta kepolisian negaranya menyelidiki dugaan pengaturan skor, suap, dan perjudian ilegal yang diduga melibatkan sejumlah anggota tim nasionalnya selama turnamen.

Kasus tersebut masih berada pada tahap penyelidikan. LFF belum menyatakan bahwa pemain tertentu terbukti melakukan tindak pidana, sedangkan identitas sejumlah pemain yang disebut masuk radar pemeriksaan juga belum diumumkan.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Super League Menuju Musim 2026-2027

Baca Juga: Piala AFF 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Karena itu, seluruh tuduhan harus diperlakukan secara hati-hati dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Meski demikian, dugaan match-fixing itu tidak hanya menyangkut internal sepak bola Laos.

Kasus tersebut dinilai menjadi ujian serius bagi kemampuan AFF dalam menjaga integritas kompetisi regional. Respons AFF akan menentukan apakah Hyundai ASEAN Cup 2026 tetap dipandang sebagai turnamen yang kredibel.

Atau sebaliknya, ASEAN Championship 2026 justru dibayangi keraguan mengenai transparansi, independensi, dan pengawasan pertandingan, karena kasus Timnas Laos tersebut.

Dugaan semula mencuat setelah Timnas Laos menutup kiprah di Grup B dengan empat kekalahan beruntun. Yakni 0-5 dari Thailand (25 Juli), 1-4 lawan Filipina (1 Agustus), dan 2-7 dari Myanmar (4 Agustus).

Rangkaian hasil buruk pada Piala AFF 2026 tersebut memicu pertanyaan publik, meskipun skor besar dan kekalahan beruntun tidak dapat dijadikan bukti bahwa pertandingan telah diatur.

Menurut pengamat sepak bola, Akmal Marhali, ujian bagi AFF bukan hanya menemukan pihak yang mungkin bertanggung jawab.

“Sorotan terhadap integritas turnamen itu justru bisa melebar ke kualitas pengambilan keputusan di lapangan," katanya di Jakarta pada Jumat (14/8/2026).

Lebih lanjut Founder SOS (Save Our Soccer) ini mengaitkan dengan kasus sebelumnya, ketika Timnas Indonesia dirugikan dalam laga penutup Grup A melawan tuan rumah Singapura.

Ilustrasi sepak bola Asia Tenggara atau ASEAN disertai logo ASEAN Football Federation atau AFF. (Grafis: Skor.id)
Ilustrasi sepak bola Asia Tenggara atau ASEAN disertai logo ASEAN Football Federation atau AFF. (Grafis: Skor.id)

Pertandingan itu dipimpin wasit asal Oman, Abdullah Salim Khalfan Al-Amouri. Insiden pertama terjadi sekitar menit ke-20 ketika Mitchell Baker jatuh di kotak penalti Singapura saat berusaha menguasai atau memenangkan bola.

Baker dan para pemain Timnas Indonesia lain meminta penalti karena terjadi kontak dengan pemain Singapura, tetapi wasit tidak menunjuk titik putih. Kontroversi kedua muncul pada menit ke-62.

Kiper Timnas Singapura, Mohamad Izwan Mahbud, menangkap bola dengan tangan setelah bola datang dari sentuhan kaki rekan setimnya. Wasit membiarkan permainan berlanjut dan tidak memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada Indonesia.

"Padahal, menurut Laws of the Game, penjaga gawang tidak boleh menangkap bola apabila bola sengaja ditendang kepadanya oleh rekan setim,” kata Akmal Marhali.

“Jika sentuhan itu dinilai sebagai deliberate back-pass, Indonesia seharusnya mendapat tendangan bebas tidak langsung dari jarak sangat dekat karena kejadian ada di dalam kotak penalti Singapura.”

"Meski keputusan wasit tetap merupakan bagian dari penilaian teknis pertandingan, kontroversi itu memperkuat tuntutan agar AFF mengevaluasi kualitas dan konsistensi perangkat pertandingan," ia memaparkan.

Lebih lanjut dijelaskan Akmal, dugaan match-fixing Timnas Laos dan kontroversi pertandingan Indonesia melawan Singapura boleh saja merupakan persoalan berbeda di ASEAN Championship 2026.

"Namun, keduanya bertemu pada isu yang sama, yakni kepercayaan terhadap tata kelola kompetisi. AFF perlu merespons secara transparan dan memastikan bahwa Hyundai ASEAN Cup 2026 berlangsung jujur, kompetitif, serta diawasi melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan," ia memungkasi.

× Image