Home > National

Kemenlu RI Dorong Sepak Bola Jadi Instrumen Kesehatan Mental di Forum PBB

Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya menjadikan sepak bola sebagai sarana untuk membangun kualitas generasi muda.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Heru Hartanto Subolo (kiri), dan pendiri Grha Gemah Nusa, Ratu Tisha Destria, saat berbicara di UN Youth Office, New York, 17 Juli 2026. (Foto: Dok. Grha Gemah Nusa Foundation/Grafis: Skor.id)
Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Heru Hartanto Subolo (kiri), dan pendiri Grha Gemah Nusa, Ratu Tisha Destria, saat berbicara di UN Youth Office, New York, 17 Juli 2026. (Foto: Dok. Grha Gemah Nusa Foundation/Grafis: Skor.id)

SKOR.id – Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya menjadikan sepak bola sebagai sarana untuk membangun kualitas generasi muda. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Heru Hartanto Subolo, saat mewakili Indonesia dalam forum One World, One Game, One Goal: Football for Youth Mental Health and Well-being yang digelar United Nations Youth Office di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, Jumat (17/7/2026) waktu setempat atau Sabtu (18/7/2026) pagi WIB.

Dalam forum internasional tersebut, Heru menekankan bahwa sepak bola tidak hanya menghadirkan hiburan dan persaingan di atas lapangan, tetapi juga memiliki kekuatan untuk membentuk karakter, memperkuat ketangguhan mental, serta menumbuhkan empati di kalangan generasi muda.

Ia menyebut, momentum sepak bola yang dinikmati jutaan orang di seluruh dunia menjadi kesempatan untuk mengingat kembali nilai-nilai positif yang dibawa olahraga tersebut.

“Selama sepekan terakhir, jutaan orang di seluruh dunia merayakan sepak bola. Gol-gol spektakuler, penyelamatan gemilang, kegembiraan saat menang, hingga pelajaran dari sebuah kekalahan telah menyatukan kita semua. Namun sepak bola jauh lebih dari sekadar sebuah permainan,” ujar Heru, dalam paparannya.

Baca Juga: Piala AFF 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: Update Bursa Transfer Super League Menuju Musim 2026-2027

Menurut Heru, sepak bola memiliki kemampuan untuk melampaui batas negara, budaya, hingga perbedaan generasi. Melalui olahraga ini, rasa kebersamaan dapat tumbuh, ruang dialog terbuka, dan kepedulian antarsesama semakin kuat, terutama bagi kaum muda.

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah terus memperkuat berbagai kebijakan yang mendukung pencegahan, layanan psikologis, intervensi dini, hingga pelayanan berbasis komunitas agar semakin banyak anak muda mendapatkan akses terhadap dukungan kesehatan mental.

Dalam kesempatan tersebut, Heru turut memperkenalkan Liga Universitas Coca-Cola Play for Peace sebagai salah satu contoh bagaimana Indonesia memanfaatkan sepak bola untuk memberikan dampak sosial yang lebih luas. Program tersebut dinilai tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga membangun karakter, memperkuat kerja sama tim, menanamkan empati, serta menciptakan ruang aman bagi anak muda untuk berbicara mengenai kesehatan mental.

“Melalui Liga Universitas Coca-Cola Play for Peace, Indonesia menunjukkan bagaimana sepak bola dapat membangun ketangguhan, empati, kerja sama tim, serta menciptakan ruang yang aman dan bebas stigma untuk membahas kesehatan mental dan kesejahteraan,” kata Heru.

Di akhir pidatonya, Heru mengajak masyarakat dunia melihat Final Piala Dunia FIFA 2026 dari sudut pandang yang lebih luas. Baginya, makna kemenangan tidak hanya diukur dari trofi yang berhasil diraih, melainkan juga dari keberhasilan membentuk generasi muda yang sehat secara mental, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Trofi memang menjadi simbol kemenangan. Namun kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kita berhasil membangun generasi muda yang sehat, tangguh, dan mampu berkembang bersama,” tutupnya.

× Image