Hajime Moriyasu Lanjut Tangani Timnas Jepang hingga Piala Asia 2027, Ada Klausul Tak Biasa

SKOR.id – Hajime Moriyasu dipastikan tetap menangani Timnas Jepang setelah berakhirnya Piala Dunia 2026. Namun, keputusan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) kali ini terbilang tidak biasa karena sang pelatih hanya akan mendapat perpanjangan masa tugas selama enam bulan hingga Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
Menurut sejumlah sumber di Jepang, JFA telah meminta Moriyasu untuk tetap memimpin Samurai Biru hingga Piala Asia yang berlangsung pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027. Permintaan itu disebut sudah diterima oleh pelatih berusia 57 tahun itu sehingga kedua belah pihak kini telah mencapai kesepakatan secara lisan.
Meski demikian, seperti dikabarkan Nikkan Sports, JFA dikabarkan tidak memiliki rencana memperpanjang kontrak Moriyasu setelah Piala Asia berakhir. Bahkan apabila Jepang sukses mengangkat trofi, federasi tetap akan menunjuk pelatih baru yang dijadwalkan mulai bertugas pada agenda FIFA Matchday Maret 2027.
Keputusan ini menjadi sorotan karena Moriyasu masih akan memimpin Jepang dalam rangkaian pertandingan yang sangat penting. Samurai Biru dijadwalkan menjalani enam laga internasional sepanjang sisa tahun ini, dimulai dari pertandingan di Miyagi pada 24 September, termasuk tur ke luar negeri pada November.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap
Baca Juga: Jadi Kandang Timnas Indonesia di Piala AFF 2026, Pembenahan Atap Stadion Pakansari Terus Dikebut
Jika Jepang melaju hingga partai final Piala Asia, Moriyasu berpotensi memimpin tim dalam tujuh pertandingan tambahan. Artinya, ia masih memiliki total 13 laga sebagai ajang pembinaan tim sebelum benar-benar mengakhiri masa jabatannya.
JFA Sudah Kantongi Persetujuan Moriyasu
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa proses perpanjangan ini dilakukan secara tertutup.
Presiden JFA, Tsuneyasu Miyamoto, sebelumnya telah mengajukan permintaan secara informal agar Moriyasu tetap melatih hingga Piala Asia tahun depan. Berdasarkan keterangan beberapa pejabat federasi, Moriyasu menerima tawaran tersebut sehingga saat ini tinggal menunggu proses administrasi untuk disahkan secara resmi.
Sebelumnya, seusai Jepang tersingkir dari babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Brasil, Moriyasu belum memberikan kepastian mengenai masa depannya.
“Masa depan saya belum diputuskan,” ucapnya ketika itu.
Saat kembali ke Jepang dan menghadiri konferensi pers pada 2 Juli, Moriyasu juga masih enggan berbicara banyak.
“Saya ingin beristirahat sejenak dan terlebih dahulu mengevaluasi turnamen ini. Untuk saat ini, hanya itu yang sudah dipastikan,” tuturnya.
Menurut laporan tersebut, JFA merasa lega karena Moriyasu tidak menolak permintaan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tetap Berpisah Meski Juara Piala Asia
Yang menarik, JFA disebut tetap akan mengakhiri kerja sama dengan Moriyasu meski Jepang berhasil menjuarai Piala Asia 2027. Jika hal itu terjadi, Samurai Biru akan meraih gelar Piala Asia pertama sejak edisi 2011 di Qatar.
Federasi telah menetapkan bahwa pelatih baru akan langsung memulai tugasnya pada agenda FIFA Matchday Maret 2027.
Apabila setelah Piala Asia Moriyasu juga mengakhiri seluruh keterlibatannya di JFA, maka masa jabatan enam bulan tersebut akan menjadi kasus yang sangat langka dalam sejarah Timnas Jepang.
Namun, apabila JFA masih ingin memanfaatkan pengalaman Moriyasu untuk membantu pengembangan sepak bola nasional atau memberikan masukan teknis, termasuk mempertahankan staf kepelatihannya, maka kerja sama administratif dapat diperpanjang hingga satu tahun. Meski demikian, tugasnya sebagai pelatih kepala tetap hanya sampai Piala Asia.
Kesepakatan resmi diperkirakan baru akan diumumkan setelah melewati pembahasan di Komite Pengembangan Tim, Komite Teknik, hingga rapat dewan direksi JFA yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Juli.
Keputusan mempertahankan Moriyasu hanya sampai Piala Asia juga memunculkan pro dan kontra di kalangan internal sepak bola Jepang.
Pasalnya, seluruh pertandingan menuju Piala Asia merupakan kesempatan penting untuk membangun fondasi tim baru. Ada kekhawatiran bahwa proses regenerasi justru akan tertunda karena pelatih yang memimpin dipastikan akan meninggalkan jabatan setelah turnamen.
Salah seorang pihak yang mengetahui situasi tersebut bahkan mengkritik kebijakan JFA.
“Kalau benar memikirkan masa depan sepak bola Jepang, seharusnya pilihannya hanya dua: Tidak diperpanjang sama sekali atau langsung diberi kontrak empat tahun,” ucap sosok tersebut.
Menurut pandangan tersebut, JFA seharusnya memilih salah satu dari dua opsi, yakni mengganti pelatih sejak sekarang agar memiliki waktu membangun tim menuju Piala Dunia 2030, atau tetap mempercayai Moriyasu hingga turnamen tersebut.
Dengan demikian, keputusan federasi dinilai akan menjadi tolok ukur keseriusan para petinggi JFA dalam menentukan arah pembangunan Timnas Jepang untuk siklus berikutnya.
Pada hari yang sama, Presiden JFA Tsuneyasu Miyamoto bersama Hajime Moriyasu melakukan kunjungan ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang.
Saat dimintai keterangan oleh media, Miyamoto mengakui bahwa proses perpanjangan kontrak tersebut masih belum sepenuhnya rampung.
“Mengenai prosedurnya, kami harus mengikuti semua tahapan dengan benar. Masih banyak hal yang perlu diselesaikan, jadi tidak bisa dikatakan semuanya berjalan mulus,” kata Miyamoto.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keputusan mempertahankan Moriyasu hanya hingga Piala Asia masih berpotensi menimbulkan berbagai respons sebelum benar-benar disahkan.
Sebelumnya, jika Moriyasu memilih mundur usai Piala Dunia 2026, pelatih Timnas Jepang U-21, Go Oiwa, disebut menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menggantikannya. Namun, dengan tercapainya kesepakatan bersama Moriyasu, JFA kini memusatkan fokus pada kelanjutan kepemimpinannya hingga Piala Asia 2027.
Seperti diketahui, pada Piala Asia 2027, Jepang tergabung di Grup F bersama Timnas Indonesia, Qatar, dan Thailand.
Sumber: Nikkan Sports
