Home > Super League

Pemain Lokal Diminta Tidak Cengeng Hadapi Pesaingan di Super League 2025-2026

Founder Football Institute, Budi Setiawan, memberikan pandangannya soal minimnya striker lokal karena banyaknya pemain asing di Super League 2025-2026.
Image
Taufani Rahmanda Editor : Taufani Rahmanda
Ilustrasi Super League 2025-2026. (Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)
Ilustrasi Super League 2025-2026. (Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)

SKOR.id - Para pemain lokal di Liga Indonesia diminta tidak cemgeng menghadapi persaingan di Super League 2025 yang banyak diisi pemain asing.

Founder Football Institute, Budi Setiawan, bersama pengamat sepak bola nasional, Tommy Welly membahan penampilan Timnas Indonesia usai FIFA Series 2026.

Yakni dalam unggahan akun Youtube pengamat yang akrab disapa Bung Towel itu, Budi Setiawan mengomentari soal permasalahan lini depan Garuda.

Ia merasa minimnya mesin gol lokal terjadi bukan karena banyaknya pemain asing di Super League 2025-2026 yaitu boleh 11 di daftar pemain dan tujuh main bersama.

Baca Juga: Super League 2025-2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: Championship 2025-2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

“Bicara masalah Liga saat ini, menurut saya ini jauh lebih profesional dalam mengelola kompetisi maupun membuat terobosan-terobosan programnya,” kata Budi Setiawan.

“Menurut saya sudah lebih progresif dibandingkan yang sebelumnya. Termasuk masalah regulasi pemain asing ini saya mendukung walaupun memang ternyata sampai saat ini ada sebuah fakta, kita kekurangan di lini depan untuk tim nasional.”

“Sekarang ini kita mencari obat, formulasi terbaik, bagaimana pilihan terbaiknya agar pemain lokal kita khususnya striker memiliki jam terbang lebih dan bisa menjadi the next Boas Solossa atau the next Bambang Pamungkas.”

“Satu hal yang harus digaris bawahi bahwa Super League ini kan kompetisi profesional. Bicara kompetisi profesional, ya ini peran globalisasi memungkinkan bagi semua pemain asing itu untuk masuk ke dalam suatu kompetisi.”

“Jadi mau enggak mau memang (pemain asing di) kompetisi itu bukan sebuah hal yang dilarang, tapi itu sudah natural alamiah,” ia menjabarkan.

Lebih lanjut Budi Setiawan menyebut, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah para pemain lokal siap untuk berkompetisi dengan pemain asing di Super League.

“Bersaing bukan hanya dengan sesama anak bangsa, tapi juga pemain asing yang masuk. Karena klub sepak bola tentu cita-citanya kan menjadi juara,” ia menambahkan.

“Untuk menjadi juara, mereka harus punya skuad yang bagus dan itu enggak bisa kalau tidak menggunakam pemain asing. Nah, menurut gua satu, kita enggak boleh cengeng nih untuk pemain-pemain lokal kita.”

“Enggak boleh cengeng melihat situasi ini. Harus terus bersaing. Karena sebetulnya kalau kita melihat secara keseluruhan, ini krisisnya itu bukan hanya di lini depan,” Budi Setiawan menegaskan.

Ia pun menguraikan bahwa pada posisi lain, di lini belakang Timnas Indonesia belum punya pemain lokal penerus setangguh Rizky Ridho, di tenga pun tak ada yang selevel Thom Haye.

“Yang kalau misalnya kita sebut pemain asing di Liga ada Alexis Messidoro. Kan belum punya juga kita pemain-pemain lokal yang levelnya seperti dia,” kata Budi Setiawan lagi.

“Artinya krisis itu bukan hanya ada di level striker, tapi di beberapa lini, kita kekurangan itu. Bahwa kita punya stok lebih banyak di level penjaga gawang, iya. Tapi di belakang setelah Rizki Rido, siapa yang mau kita andalkan?.”

“Menurut saya, kita membuat kebijakan ke depan itu enggak boleh ngelihatnya parsial. Jangan sampai karena kita buntu di lini depan, lalu memaksa Liga untuk membuat sebuah kebijakan yang sifatnya memaksa bahwa harus ada striker lokal yang wajib dimainkan. Apa itu menjadi obat? Kan belum tentu,” ia memungkasi.

× Image