John Herdman: Sistem Pembinaan Pemain Muda Jadi Solusi Krisis Striker

SKOR.id – Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menyoroti minimnya talenta penyerang murni yang dimiliki skuad Garuda.
Ia menilai Indonesia masih membutuhkan sosok penyerang nomor sembilan yang benar-benar berkarakter sebagai striker tengah.
Persoalan tersebut terlihat pada komposisi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Skuad Garuda hanya memiliki satu penyerang murni, yakni Mitchell Baker.
Sementara itu, sejumlah pemain lain yang mengisi lini serang lebih banyak berkarakter sebagai penyerang sayap, seperti Ole Romeny, Luke Vickery, hingga Ragnar Oratmangoen.
Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026 Sukses Digelar, Presiden FIFA Puji Indonesia Tuan Rumah yang Hebat
Baca Juga: Hasil Drawing League Cup 2026-2027: Persija Segrup PSMS, PSM Jumpa Persipura
Meski memiliki keterbatasan di sektor tersebut, Timnas Indonesia tetap mampu mencatat prestasi dengan menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
John Herdman mengatakan Indonesia selama ini masih menghadapi tantangan untuk menemukan penyerang nomor sembilan.
"Menurut saya Indonesia selama ini menggantungkan harapan untuk menemukan penyerang nomor sembilan di luar negeri atau melahirkannya sendiri," ujar John Herdman dikutip dari YouTube Liputan6.
Pelatih asal Inggris itu menyadari proses melahirkan striker berkualitas dari dalam negeri membutuhkan waktu panjang.
"Mungkin itu akan terjadi dalam satu generasi lagi, sepuluh tahun, bahkan dua dekade lagi, jadi kami harus mengandalkan pemain yang ada saat kami mempunyai sekelompok pemain dengan beragam posisi, tetapi sedikit penyerang," kata John Herdman.
Ia pun tidak ingin seluruh tanggung jawab mencetak gol dibebankan kepada pemain nomor sembilan.
"Kami tidak bisa membebankan semua tanggung jawab pemain nomor sembilan, karena beban pemain nomor sembilan itu berat," ucapnya.
Menurutnya, seluruh pemain harus memiliki kontribusi dalam membangun serangan maupun mencetak gol.
Ia mencontohkan bek tengah Timnas Indonesia, Rizky Ridho, yang mampu maju membantu serangan dan mencetak gol ketika menghadapi Bangladesh.
Sistem Pembinaan Usia Muda
Persoalan minimnya striker murni kemudian membuat John Herdman berpikir lebih jauh mengenai pembinaan pemain usia muda.
Pelatih berusia 51 tahun itu memiliki impian untuk menemukan dan membentuk penyerang tengah asli Indonesia sejak usia dini.
Menurutnya, pembinaan tersebut membutuhkan sistem yang terarah, termasuk latihan khusus berdasarkan posisi pemain.
"Kami harus tetap melahirkan penyerang tengah dari Indonesia. Impian saya anak-anaknya usia 12 sampai 16 tahun masuk ke sistem sekolah khusus penyerang. Latihan khusus posisi bagi pemain muda yang menunjukkan potensi," ungkap John.
Gagasan tersebut memiliki relevansi dengan pentingnya kompetisi usia muda yang berjalan secara berjenjang.
Salah satu ekosistem yang telah menjalankan kompetisi sepak bola usia muda secara berjenjang sejak 2011 adalah Liga TopSkor.
Kompetisi tersebut menjadi salah satu wadah pembinaan pemain muda dengan jenjang usia yang memungkinkan pemain mendapatkan pengalaman bertanding secara konsisten sejak usia dini.
Model kompetisi berjenjang seperti ini menjadi penting karena proses menemukan seorang striker tidak cukup hanya melalui latihan.
Pemain membutuhkan kompetisi, pengalaman menghadapi lawan dengan karakter berbeda, serta evaluasi yang berkelanjutan untuk melihat perkembangan pemain.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Herdman bahwa calon penyerang tengah harus ditemukan dan dibina sejak usia muda.
"Jadi jika tidak dimulai sejak usia 12 sampai 16 tahun, pemain itu tidak akan muncul begitu saja. Mereka harus menemukan sejak dini dan dibina secara terarah untuk penyerang tengah. Saya sangat berharap itu bisa kami kembangkan dan terapkan dalam sistem," kata John.
Bagi Timnas Indonesia, ekosistem dengan kompetisi berjenjang inilah yang dapat menjadi bagian dari proses pencarian talenta baru, termasuk untuk menjawab kebutuhan akan penyerang nomor sembilan di masa depan.
