Home > National

Perkembangan Sepak Bola Putri Usia Dini Terlihat Nyata di MilkLife Soccer Challenge

Menurutnya, perkembangan tidak hanya terlihat dari bertambahnya tim yang berpartisipasi, tetapi juga dari dukungan orang tua selama kompetisi berlangsung.
Image
Gangga Basudewa Editor : Gangga Basudewa
Program Manager MLSC, Welly Arisanto usai MLSC Jakarta Raya Minggu (20/9/2026) di KingKong Soccer Arena, Jakarta Timur. (Gangga Basudewa/Skor.id) Sumber:
Program Manager MLSC, Welly Arisanto usai MLSC Jakarta Raya Minggu (20/9/2026) di KingKong Soccer Arena, Jakarta Timur. (Gangga Basudewa/Skor.id) Sumber:

SKOR.id - MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 1 2026-2027 kembali menjadi panggung bagi pesepak bola putri usia dini untuk mengasah kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman bertanding. Digelar di 15 kota penyelenggaraan, kompetisi ini terus membawa misi memperkuat fondasi sepak bola putri Indonesia sejak tingkat sekolah dasar.

Pada edisi terbaru, MLSC masih mempertahankan format tujuh lawan tujuh tanpa aturan offside untuk Kelompok Usia (KU) 10 dan KU 12. Pertandingan pada fase penyisihan hingga perempat final berlangsung selama 2 x 10 menit, sedangkan semifinal dan final dimainkan dengan durasi 2 x 15 menit.

Ada perubahan pada ukuran lapangan untuk KU 10. Jika sebelumnya menggunakan lapangan berukuran 40 x 24 meter, kini dimensinya disamakan dengan KU 12 menjadi 42 x 26 meter. Regulasi usia juga diperbarui. KU 10 diperuntukkan bagi pemain kelahiran 1 Juli 2016 hingga 30 Juni 2018, sementara KU 12 dapat diikuti pemain kelahiran 1 Juli 2014 sampai 30 Juni 2016.

Tak hanya menghadirkan kompetisi tujuh lawan tujuh, MLSC Seri 1 juga kembali menggelar Festival SenengSoccer untuk KU 8. Di Jakarta Raya, festival tersebut diikuti 76 siswi dari 21 SD dan MI. Sementara di Yogyakarta, sebanyak 65 peserta dari 19 SD dan MI ambil bagian.

Program Manager MLSC, Welly Arisanto, melihat antusiasme tersebut sebagai bukti bahwa sepak bola putri usia dini memiliki basis yang semakin kuat. Menurutnya, perkembangan tidak hanya terlihat dari bertambahnya tim yang berpartisipasi, tetapi juga dari dukungan orang tua selama kompetisi berlangsung.

"Yang menarik dan menurut saya luar biasa adalah dukungan orang tua ke peserta yang bertanding sangat antusias. Di setiap seri, di setiap kota pelaksanaan MLSC itu orang tua selalu berperan aktif dan itu penting sekali buat mental para pemain," ujar Welly.

Perkembangan juga terlihat dari kualitas permainan. Head Coach MLSC, Jacksen F. Tiago, menyebut para pemain mulai menunjukkan kemampuan teknik dan pemahaman permainan yang lebih baik.

"Teknik dasar mereka semakin baik, lebih percaya diri saat menggiring bola, passing-nya semakin terarah, kontrolnya juga semakin bagus. Dan yang penting, mereka mulai mengerti cara bermain sebagai sebuah tim," kata Jacksen.

Menurut Jacksen, kompetisi yang berlangsung secara konsisten menjadi bagian penting dari proses pembinaan. Pengalaman bertanding sejak usia dini dinilai dapat membentuk kemampuan, mental, kebiasaan, serta karakter pemain.

Ia pun menilai target membawa Timnas Putri Indonesia tampil di putaran final Piala Dunia 2035 bukan hal yang mustahil. Namun, ambisi tersebut membutuhkan pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan, dengan kompetisi usia dini sebagai salah satu fondasi utamanya.

MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 1 2026-2027 baru menyelesaikan kota Jakarta Raya dan Yogyakarta pada Minggu (20/9/2026).

× Image