Home > National

Demi Liga Indonesia Naik Kelas, I.League Dorong Sisi Marketing dan Sustainability dalam Club Licensing

Mulai musim depan, I.League ingin klub-klub Indonesia lebih memperhatikan aspek bisnis agar tumbuh menjadi klub yang sehat secara finansial.
Image
Teguh Kurniawan Editor : Teguh Kurniawan
Diskusi Water Break PSSI Pers bertajuk
Diskusi Water Break PSSI Pers bertajuk "Membawa Liga Naik Kelas" digelar di I.League Office, Jakarta, 31 Agustus 2026. Sumber:(Foto: PSSI Pers/Grafis: Yudhy Kurniawan/Skor.id)

SKOR.id - Memasuki musim 2026-2027, kompetisi sepak bola Indonesia terus memperlihatkan peningkatan.

Transformasi ini terutama berjalan pesat dalam tiga tahun terakhir, di mana sejumlah terobosan dilakukan I.League selaku operator liga.

Mulai dari jadwal pertandingan yang teratur, penerapan teknologi termasuk VAR, hingga ketegasan soal klub licensing.

Dengan demikian, fondasi kompetisi yang sehat kini sudah mulai terbentuk. Selanjutnya, tinggal bagaimana mempertahankan dan menyesuaikan beberapa aspek menjadi lebih baik.

"Sekali lagi, bukan semata-mata karena ini musim baru lalu ada yang baru. Kami tidak mengejar bagaimana barunya, tapi bagaimana kualitasnya kami naikkan. Kami ingin konsisten dengan apa yang sudah kami tetapkan," kata Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, dalam diskusi PSSI Pers di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8/2026).

"Dalam tiga tahun terakhir kami sudah membangun sebuah fondasi untuk melakukan transformasi. Baik itu club licensing, club empowerment, kapasitas billing, kemudian dari para pelatih, pemain, dan lain-lain kami mencoba terus berprogres. Sekarang kita masuk ke dalam fase ekspansi," tambahnya.

Salah satu fokus ekspansi, atau pengembangan, yang ingin dilakukan I.League ada di club licensing.

Saat ini, kelayakan klub Indonesia baru dinilai dari lima aspek, yakni sporting, legal, finansial, personel dan admin, serta infrastruktur.

Mulai musim depan, mereka bakal menambahkan dua aspek lagi, yaitu marketing dan sustainability.

Ini bertujuan mendorong klub-klub agar tidak hanya beroperasi sebatas entitas olahraga, tapi juga mulai merambah ke industri dan bisnis.

"Marketing sudah pasti berkatan dengan bisnis. Sedangkan sustainability, kita bicara bagaimana klub yang sudah membangun fondasi tadi, ke depannya juga akan bisa sustainable dalam menjalankan roda aktivitas mereka," kata Asep.

Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra. (Dok. PSSI Pers).
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra. (Dok. PSSI Pers).

Tentu bukan hal mudah. Selain sponsor, mayoritas klub Indonesia saat ini masih sangat bergantung kepada subsidi dari Liga dan kekuatan finansial owner untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Mereka belum mampu menghasilkan pemasukan mandiri yang signifikan, baik dari tiket maupun merchandising.

Namun, pemilik klub tentu juga punya batas kemampuan. Ketika mereka tak lagi sanggup, problem finansial pun melanda.

Ini yang pelan-pelan ingin dibenahi oleh I.League. Mereka memulai dari kompetisi dulu, dengan menerapkan jadwal yang teratur sehingga klub bisa membuat proyeksi bisnis jangka panjang.

Kemudian meningkatkan kualitas pertandingan lewat tambahan kuota pemain asing dan wasit kompeten yang disupport teknologi VAR, membuat setiap laga menjadi suguhan menarik.

Dengan demikian, klub-klub punya daya tawar tinggi saat berusaha menggaet sponsor

Lebih lanjut, infrastruktur yang memadai juga dipaksa hadir lewat club licensing. Imbasnya, sekarang mayoritas stadion di Indonesia sudah memenuhi standar AFC dan FIFA.

Tapi, untuk naik kelas, itu saja tak cukup. Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, mengatakan bahwa stadion-stadion tersebut juga harus mulai mengikuti standar modern.

Sejauh ini, kebanyakan stadion masih sekedar 'tempat pertandingan sepak bola', tak ada fasilitas penunjang seperti in-house foodcourt atau toko merchandise resmi yang bisa berdampak terhadap finansial klub.

"Kita melihat kemarin, kenapa FIFA berhasil di (Piala Dunia) Amerika? Karena stadion semua di Amerika itu sudah lengkap dengan aspek komersil. Gak ada lagi tuh orang bawa makanan dan minuman dari luar, di dalam ada kok harga murah," kata Sadikin Aksa.

"Ini tantangan buat kami sekarang, bagaimana membantu klub untuk mendapatkan sumber revenue selain dari sponsor. Kami harus mengajarkan kepada teman-teman di klub bagaimana mereka bisa sustain dalam berbisnis," tambahnya.

Lewat penambahan aspek marketing dan sustainability dalam club licensing, I.League berharap klub-klub di Indonesia bisa berkembang menjadi lebih profesional dan mampu beroperasi dengan finansial yang sehat dan berkelanjutan.

× Image