Home > National

Sportivitas di Tengah Tenaga yang Terkuras, Final Piala Presiden 2026 Jadi Panggung Respek Persib dan Persebaya

Final Piala Presiden 2026 memperlihatkan bagaimana para pemain Persib dan Persebaya tetap memperlihatkan sportivitas di tengah fisik yang terkuras.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Persib Bandung vs Persebaya Surabaya menjadi partai final Piala Presiden 2026 yang seru dan ketat. (Foto: Dok. Media Piala Presiden 2026/Grafis: Kevin Bagus Prinusa/Skor.id) 
Persib Bandung vs Persebaya Surabaya menjadi partai final Piala Presiden 2026 yang seru dan ketat. (Foto: Dok. Media Piala Presiden 2026/Grafis: Kevin Bagus Prinusa/Skor.id)

SKOR.id – Ketika peluit panjang berbunyi di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Kamis (6/8/2026), bukan hanya Persebaya Surabaya yang mengangkat trofi Piala Presiden 2026. Malam itu, sportivitas ikut berdiri di podium kehormatan.

Selama 120 menit, Persib Bandung dan Persebaya Surabaya saling menguji ketahanan fisik, mental, sekaligus harga diri. Jadwal padat dengan masa pemulihan hanya 48 jam membuat kedua tim memasuki lapangan dengan kaki yang mungkin mulai berat. Namun, semangat bertanding tetap menyala bak api yang menolak padam diterpa angin. Intensitas boleh sedikit menurun, tetapi rasa hormat terhadap permainan tak pernah surut.

Laga berlangsung sengit sejak menit pertama. Persebaya lebih dulu memimpin lewat Ramadhan Sananta pada menit ke-20 sebelum Persib merespons melalui gol Patricio Matricardi hanya berselang empat menit kemudian. Ketika waktu normal usai, kedua tim masih berdiri sejajar. Begitu pula setelah babak tambahan 2x15 menit. Pemenang akhirnya baru ditemukan melalui adu penalti yang dimenangkan Green Force dengan skor 6-5.

Persebaya Surabaya untuk pertama kalinya menjadi juara Piala Presiden. (Foto: Dok. Media Piala Presiden 2026)
Persebaya Surabaya untuk pertama kalinya menjadi juara Piala Presiden. (Foto: Dok. Media Piala Presiden 2026)

Memang ada delapan kartu kuning (enam Persib, dua Persebaya), dan satu kartu merah untuk Persib yang dikeluarkan oleh wasit Rio Permana Putra pada laga ini. Tapi itu adalah cerminan bagaimana para pemain kedua tim tetap tampil ngotot demi meraih prestasi terbaik. Mereka menerima seluruh keputusan wasit dengan legawa.

Baca Juga: Piala Presiden 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen

Baca Juga: Persebaya Jadi Juara Baru di Piala Presiden 2026

Di balik drama tersebut, ada satu cerita yang luput dari sorotan: Bagaimana kedua pelatih menjaga keseimbangan antara ambisi meraih gelar dan keselamatan pemain melalui rotasi skuad.

Pelatih Persib Igor Tolic melakukan delapan pergantian pemain sepanjang pertandingan. Sementara di kubu Persebaya, Bernardo Tavares menggunakan enam subtitusi. Pergantian itu bukan sekadar perubahan taktik, melainkan cerminan bagaimana pramusim dijadikan ruang untuk menjaga kebugaran tanpa mengorbankan daya saing. Plus memberikan kesempatan kepada para pemain muda untuk unjuk kemampuan.

Duel sengit terjadi antara pemain Persib dan Persebaya pada final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Kamis (6/8/2026) malam WIB. (Foto: Dok. Media Piala Presiden 2026)
Duel sengit terjadi antara pemain Persib dan Persebaya pada final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Kamis (6/8/2026) malam WIB. (Foto: Dok. Media Piala Presiden 2026)

Panitia Piala Presiden 2026 memang memberikan keleluasaan kepada setiap tim melakukan hingga 12 pergantian pemain dalam satu pertandingan. Fleksibilitas itu dirancang agar klub mampu mengelola kondisi fisik pemain di tengah padatnya jadwal.

Wakil Ketua Pelaksana Bidang Kompetisi Piala Presiden 2026, Risha Adi Widjaya, menegaskan regulasi tersebut telah menjadi bagian dari desain turnamen sejak awal.

“Kami memahami kekhawatiran para pelatih, namun perlu diingat bahwa Piala Presiden 2026 adalah event pramusim yang dirancang untuk memberikan jam terbang kepada pemain-pemain. Justru untuk itu kami memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada setiap pelatih untuk melakukan rotasi pemain sesuai kebutuhan mereka,” kata Risha dalam jumpa pers menjelang final.

Menurut Risha, seluruh regulasi, termasuk masa rehat 48 jam antarlaga, telah mendapat persetujuan AFC dan disosialisasikan kepada seluruh peserta melalui Manager Competition Meeting sebelum babak semifinal berlangsung.

“Semua pihak telah memahami dan menyepakati aturan main yang berlaku,” jelasnya.

Karakter Persib dan Persebaya Tidak Hilang

Di lapangan, rotasi itu terbukti membuat pertandingan tetap hidup. Walau energi mulai terkikis seiring waktu, kedua tim tetap mampu mempertahankan kualitas permainan. Persebaya bahkan mencatatkan lebih banyak peluang sepanjang laga.

“Menurut saya kami memiliki lebih banyak peluang dibanding lawan. Memang intensitas pertandingan tidak setinggi laga-laga sebelumnya, tetapi itu hal yang wajar karena kedua tim memiliki waktu pemulihan yang sangat singkat,” kata Bernardo Tavares, pelatih Persebaya selepas pertandingan.

Meski demikian, pelatih asal Portugal itu memuji karakter anak asuhnya yang tidak kehilangan semangat hingga detik terakhir.

“Saya sangat bangga dengan sikap dan kerja keras para pemain. Kami mampu unggul lebih dulu, meski kemudian kebobolan akibat satu kesalahan. Setelah itu kami masih memiliki beberapa peluang untuk mencetak gol lagi,” ujar pelatih yang akhirnya mengantarkan Persebaya untuk pertama kalinya meraih juara Piala Presiden ini.

Di sisi lain, Persib justru menunjukkan makna sportivitas yang sesungguhnya setelah kekalahan. Tidak ada nada menyalahkan jadwal ataupun regulasi. Kapten Adam Alis memilih memberikan penghormatan kepada lawan dan mengapresiasi perjuangan rekan-rekannya.

“Selamat buat Persebaya yang sudah juara di Piala Presiden. Saya tidak ada kecewa sama sekali karena saya bangga pada teman-teman sudah sampai di titik ini, sejauh ini,” kata Adam.

Sikap serupa ditunjukkan Igor Tolic. Pelatih asal Kroasia itu lebih dulu mengucapkan selamat kepada Persebaya sebelum berbicara mengenai timnya sendiri.

“Selamat untuk Persebaya. Mereka tampil sangat baik sepanjang turnamen dan layak menjadi pemenang,” tutur suksesor Bojan Hodak itu.

Baginya, kekalahan melalui adu penalti tidak menghapus identitas permainan yang mulai terbentuk selama pramusim.

“Adu penalti itu soal keberuntungan. Kami memang bukan juara, tapi saya yakin Bobotoh bisa tersenyum bangga melihat bagaimana tim ini berjuang dan bagaimana identitas permainan kami untuk musim depan,” tambahnya.

Ucapan saling menghormati dari kedua kubu menjadi penutup yang indah bagi turnamen pramusim tersebut. Di tengah tubuh yang lelah dan otot yang dipaksa bekerja tanpa banyak waktu pemulihan, para pemain tetap menjunjung tinggi nilai-nilai fair play. Tidak ada kontroversi yang membayangi penentuan juara. Yang tersisa hanyalah saling menghargai atas perjuangan masing-masing.

Final Piala Presiden 2026 akhirnya meninggalkan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar siapa mengangkat trofi. Di saat tenaga terkuras, karakter justru berbicara paling lantang. Sebab, kemenangan memang tercatat di papan skor, tetapi sportivitas selalu menemukan tempatnya di hati para pecinta sepak bola.

× Image