Home > World

Tiba di AS, Penyerang Timnas Iran Akui Rasakan Piala Dunia yang Berbeda

Timnas Iran sudah tiba di AS untuk menjalani laga perdana mereka di Grup G Piala Dunia 2026 melawan Selandia Baru, Senin (16/6/2026) pagi WIB.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Ilustrasi Timnas Iran. (Grafis: Skor.id) 
Ilustrasi Timnas Iran. (Grafis: Skor.id)

SKOR.id - Kedatangan Tim Nasional (Timnas) Iran ke Amerika Serikat jelang Piala Dunia 2026 diwarnai situasi yang tidak biasa. Di tengah kabar kesepakatan damai yang baru diumumkan, para pemain justru mengakui bahwa ketegangan yang terjadi telah mengurangi esensi kegembiraan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Penyerang andalan Iran, Mehdi Taremi, secara terbuka menyampaikan bahwa berbagai kontroversi dan kendala yang mereka hadapi telah mencederai pesan perdamaian yang selama ini digaungkan FIFA. Hal itu disampaikan dalam jumpa pers menjelang laga perdana mereka di Grup B Piala Dunia 2026 melawan Selandia Baru di Stadion Los Angeles, Senin (16/6/2026) pagi WIB.

“Ketegangan seperti ini merusak kegembiraan dan juga merusak pesan FIFA serta rakyat kami, yaitu tentang sepak bola dan membawa perdamaian,” ujar Taremi.

Iran sendiri mencatat sejarah sebagai negara pertama yang datang ke Piala Dunia di negara tuan rumah yang sedang berkonflik dengannya. Situasi ini menciptakan atmosfer yang berbeda sejak awal perjalanan mereka menuju turnamen.

Baca Juga: Mengapa Pemain Swedia Tak Selebrasi saat Cetak Gol vs Tunisia

Baca Juga: Mengapa Kick-Off Laga Piala Dunia 2026 Selalu Terlambat?

Tim Melli, julukan Timnas Iran, tiba di Los Angeles pada Minggu waktu setempat, setelah sebelumnya dipindahkan ke Tijuana, Meksiko, akibat polemik visa yang belum sepenuhnya mereda. Sejumlah pejabat Iran bahkan dilaporkan tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, setibanya di hotel tim di kawasan Manhattan Beach, rombongan Iran juga disambut oleh aksi protes dari sebagian diaspora Iran yang tinggal di California. Wilayah ini memang dikenal memiliki populasi Iran terbesar di luar negeri, bahkan kawasan Westwood mendapat julukan “Tehrangeles”.

Meski demikian, pelatih kepala Iran, Amir Ghalenoi, menegaskan bahwa timnya tetap fokus pada sepak bola.

“Kami di sini untuk bermain sepak bola dan mewakili rakyat Iran yang terhormat, baik yang berada di dalam negeri maupun diaspora,” kata Ghalenoi.

“Kami hanya memikirkan negara kami. Kami bukan orang politik, dan slogan FIFA adalah bahwa sepak bola terpisah dari politik. Kami menghormati setiap warga Iran,” tambahnya.

Sekitar 35.000 suporter Iran diperkirakan akan hadir dalam laga pembuka Grup G melawan Selandia Baru. Namun, sejumlah aksi protes juga diprediksi terjadi sebelum pertandingan berlangsung.

Di sisi lain, Taremi mengakui bahwa suasana Piala Dunia kali ini terasa berbeda dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

“Saya merasakan ketegangan sejak pertama kali tiba di Piala Dunia ini. Tentu saja, kami tidak mendapatkan pengalaman indah seperti biasanya—tentang perdamaian dan kegembiraan,” ujarnya.

“Saya tahu beberapa negara mengalami masalah visa dan perubahan kamp latihan. Ketegangan ini sudah ada bahkan sebelum Piala Dunia dimulai. Perasaan yang biasanya menyertai Piala Dunia kali ini tidak sama,” tutur penyerang klub Olympiakos itu.

Perjalanan yang tidak mulus juga berdampak pada persiapan tim. Ghalenoi mengakui skuadnya datang terlambat sehingga waktu adaptasi menjadi sangat terbatas.

“Kami seharusnya mulai latihan lebih awal, tetapi kami tiba terlambat dan tidak punya cukup waktu untuk beradaptasi, tentu itu berdampak,” jelasnya.

“Saya tahu para pemain saya bertekad memberikan yang terbaik. Saya berharap Piala Dunia ini berjalan baik meski ada masalah perjalanan. Semoga tidak memengaruhi kualitas permainan kami,” katanya.

Situasi semakin kompleks dengan absennya striker Sardar Azmoun. Pemain yang kini berkarier di Uni Emirat Arab itu tidak bergabung dengan tim di tengah laporan adanya ketegangan dengan pemerintah Iran.

“Sardar Azmoun adalah pemain hebat dan telah banyak berkontribusi untuk tim nasional, tetapi dia tidak bersama kami. Kami berharap dia ada di sini, tapi inilah sepak bola,” ujar Ghalenoi.

Meski berada dalam tekanan, para pemain Iran menegaskan bahwa mereka tetap datang dengan satu tujuan yaitu bermain sepak bola dan menyatukan rakyatnya.

“Para pemain tim nasional bermain untuk setiap warga Iran,” tegas Taremi.

“Orang boleh punya pendapat berbeda, tetapi kami di sini sebagai pesepak bola untuk menyatukan orang dan mencoba membawa kebahagiaan bagi semua warga Iran, di mana pun mereka berada. Kami tidak di sini untuk terlibat dalam politik, kami di sini untuk bermain sepak bola,” tegasnya.

Sumber: The Guardian

× Image