Posisi Tomas Trucha di PSM Makin Rawan, Asisten Pelatih Pasang Badan Usai Kalah dari Persita

SKOR.id - PSM Makassar kembali menelan pil pahit pada pekan ke-24 Super League 2025-2026. Kali ini, mereka tumbang di kandang sendiri dari Persita Tangerang dengan skor 2-4 di Stadion Gelora B.J. Habibie, Parepare, Senin (2/3/2026) malam WIB.
Ini menjadi kekalahan keempat beruntun tim berjulukan Juku Eja pada pentas Super League musim ini. Total, sepanjang musim ini PSM sudah menderita 11 kekalahan.
Tak ayal, kekalahan ini memantik kekecewaan dari para suporter PSM Makassar. Usai laga, suporter juga langsung menghampiri bench pemain PSM dan meminta pertanggung jawaban dari ofisial, pemain, dan pelatih untuk bisa tampil lebih baik agar terhindar dari degradasi. Namun pelatih PSM, Tomas Trucha, memilih untuk masuk ke ruang ganti dan tidak berdialog dengan suporter seperti yang dilakukan para pemain PSM.
Kini, suara-suara yang menginginkan sang pelatih Tomas Trucha untuk dipecat makin kencang.
Seperti diketahui, sejak diresmikan sebagai pelatih PSM pada 28 Oktober 2025, Tomas Trucha sudah memimpin dalam 15 pertandingan. Hasilnya, meraih empat kemenangan, dua imbang, dan menderita sembilan kekalahan.
Catatan minor itu membuatnya kini menjadi salah satu pelatih di Super League yang paling rawan untuk didepak.
Pelatih asal Republik Ceko itu pun tidak menghadiri sesi jumpa pers usai laga melawan Persita. Dia diwakili asisten pelatih Ahmad Amiruddin.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Amiruddin mengungkapkan penyebab yang membuat timnya saat ini kesulitan untuk menang.
“Setiap kali kami berlatih, setelah berlatih kami analisa semuanya. Kami selalu merasa yakin di pertandingan kami akan tampil perform,” kata Ahmad Amiruddin.
“Kami sudah bersyukur karena ada progres bisa cetak dua gol. Tapi kami juga kebobolan empat. Di pertandingan sebelumnya kami tidak cetak gol, lawan cetak satu, tetap kalah. Yang kami butuhkan sekarang adalah poin,” keluhnya.
Dari pernyataan itu, terlihat jelas bahwa persoalan PSM bukan semata pada ketajaman lini depan, melainkan keseimbangan tim secara keseluruhan. Ketika serangan mulai membaik, pertahanan justru gagal menjaga konsistensi.
Amiruddin tak mencari pembenaran atas hasil minor tersebut. Ia menegaskan bahwa dalam sepak bola, performa tanpa poin tetaplah sia-sia.
“Silakan suporter mau menyalahkan kami, wajar. Kami terima karena kami memang kalah. Dalam sepak bola yang pertama adalah hasil,” ujarnya.
Sikap tersebut menegaskan bahwa tim pelatih menyadari akar persoalan ada pada efektivitas dan konsentrasi selama 90 menit. Tanpa perbaikan di lini belakang, progres sekecil apa pun tak akan berdampak signifikan di klasemen.
Kini, pekerjaan rumah terbesar PSM Makassar adalah memperbaiki organisasi pertahanan dan menjaga konsistensi permainan. Jika tidak segera dibenahi, kekalahan serupa bisa terus terulang dan semakin menjauhkan mereka dari target yang diharapkan musim ini.
Pasalnya, mereka kini terpuruk di posisi ke-13 dengan 23 poin dari 24 pertandingan. PSM hanya terpaut lima poin dari PSBS Biak yang ada di batas atas zona degradasi alias peringkat ke-16.
