Obituari Elly Idris: Legenda Timnas Indonesia dari Pulau Buru Itu Kini Telah Tiada

SKOR.id - Satu berita duka muncul di sebuah grup WhatsApp. Kabar itu memberitahukan Elly Idris telah wafat.
Chat itu hadir sekitar jam 15.28 WIB pada Kamis, 12 Februari 2026. Kemudian menyusul info lengkap kapan dan di mana sang breaker elegan ini wafat.
Elly Idris atau Idris Ely bin Mani Kau meninggal dunia pada Kamis (12/2/2026) jam 15.00 WIB di RS Cinta Kasih, Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan.
Selepas itu banyak sekali ucapan duka cita bermunculan yang disertai kalimat tentang kebersahajaan sosok Elly Idris.
Elly Idris adalah mantan pesepak bola nasional dengan segudang prestasi di kompetisi domestik negeri ini.
Beliau juga gelandang bertenaga kuda sekaligus pemain tengah pekerja keras bagi Timnas Indonesia.
Pada awal 1980-an, Elly Idris meninggalkan kampung kelahirannya yang ada di Pulau Buru, Provinsi Maluku.
Pulau Buru adalah salah satu dari tiga kepulauan besar di Maluku dan dikenal sebagai tempat yang lekat dengan sejarah besar keputusan politik era Orde Baru.
Sebab, pulau ini menjadi pembuangan tahanan politik terkait PKI yang diasingkan oleh penguasa Orba.
Namun sebenarnya, Pulau Buru adalah wilayah dengan komoditas luar biasa dari minyak kayu putih. Olahan minyak kayu putih dari wilayah itu sangat istimewa dengan kualitas jempolan.
Mungkin, itu sama dengan kualitas terpendam Elly Idris yang kemudian "meledak" setelah dia meninggalkan kampung halamannya.
Ely kecil seperti pada umumnya anak-anak Maluku, tak pernah jauh dari bola di kakinya.
Dia nyaris tiap hari menghabiskan seluruh sorenya bermain bola tanpa alas kaki di Lapangan Pattimura yang ada di kota terbesar di pulau itu, Namlea.
Lapangan berpasir, angin laut, dan suasana sederhana menjadi saksi pertama kegemarannya pada sepak bola.
Kala itu, tak ada akademi, tanpa pelatih mumpuni, hanya permainan kampung yang dilakoni dengan gembira.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan bakat besar yang mulai menarik perhatian. Hingga pada suatu sore, penonton tak dikenal di pinggir lapangan diam-diam memperhatikannya.
Sosok itu adalah dr Zulkifli Amin, dokter asal Jakarta yang sedang berada di Namlea. Dia lalu bertanya kepada warga, “Siapa anak itu?”
Dari pertanyaan itulah, "pintu" baru bagi Elly Idris terbuka. Sang dokter kemudian menawarkan Elly kesempatan pergi ke Jakarta, menapaki jalur pembinaan profesional.
Tanpa banyak pertimbangan, Elly mengiyakan. "Saya mau. Ini hal baru dan menantang,” ujarnya dalam wawancaranya bersama Skor.id pada 30 November 2020.
Elly Idris pun sedikit cerita, dia naik kapal selama seminggu menuju Jakarta dari kampung halamannya.
"Ketika itu, saya naik kapal yang isinya sebagian besar tahanan politik (tapol) yang masa hukumannya mau habis. Mungkin saya satu-satunya penumpang yang bukan tapol di kapal itu," tuturnya.
Di Jakarta, Elly langsung dimasukkan ke tim junior PS Jayakarta, klub elite kompetisi semi profesional Indonesia ketika itu, Galatama.
Yang mengejutkan, tak sampai setahun Elly Idris naik ke tim senior. Itu sebuah proses yang jarang terjadi, bahkan untuk pemain berbakat sekalipun.
Bersama Jayakarta, ia merasakan atmosfer final Galatama melawan Niac Mitra di Surabaya. Meski hanya menjadi runner-up, panggung akbar itu menjadi bukti bahwa Elly benar-benar telah memasuki orbit sepak bola nasional.
Kemampuannya membuat ia dipanggil Liga Selection arahan pelatih Danurwindo. Pertemuan kembali dengan Niac Mitra dalam laga bergengsi itu makin memperkuat reputasinya.
Setelah Jayakarta, Elly melanjutkan kariernya bersama Yanita Utama, klub bergelimang dana. Maklum, klub yang bermarkas di Bogor ini milik Pitoyo Haryanto, pengusaha perkebunan sekaligus rekanan penguasa Orba.
Bersama Yanita Utama, Elly menyentuh gelar pertamanya saat menjuarai Galatama 1983–1984 dan 1984.
Tak cuma itu, Elly Idris juga jadi pemain kesayangan Pitoyo. Bahkan pada satu momen Yanita Utama main di Bandung, pemain lain berangkat naik bus. Khusus Elly, dia naik helikopter bersama Pitoyo.
Ketika Yanita Utama bubar, Elly tidak kehilangan arah. Ia justru bergabung dengan Kramayudha Tiga Berlian (KTB), klub raksasa Galatama milik Sjarnoebi Said, bos otomotif era itu.
Bersama KTB, Elly Idris rasakan kembali jadi juara Galatama musim 1985, 1986, dan 1987.
Setelah itu, dia melanjutkan kejayaannya bersama Pelita Jaya, klub milik pengusaha Nirwan Dermawan Bakrie. Pelita Jaya pun dibawanya juarai Galatama edisi 1988, 1989, dan 1990.
Tiga klub, dia merasakan enam gelar juara Galatama. Sebuah pencapaian yang menempatkan namanya dalam generasi emas sepak bola semi-profesional Indonesia.
Tak cuma di level klub saja, Elly ikut mengharumkan Indonesia di level Asia bersama skuad Garuda.
Dia menjadi bagian dari skuad Garuda yang menembus empat besar Asian Games 1986, salah satu prestasi membanggakan Indonesia di level benua.
Tugas terakhirnya bersama Timnas Indonesia di SEA Games 1993, saat Indonesia dilatih oleh Ivan Toplak.
Karier panjang Elly juga dibumbui fase sulit, mulai dari skorsing dua tahun akibat perseteruan di lapangan, hingga bayang-bayang skandal dalam persiapan Kualifikasi Piala Dunia 1990.
Namun semua itu adalah bagian dari perjalanan seorang atlet yang berjuang apa adanya, tanpa topeng kepura-puraan.
Elly Idris pensiun pada usia 38 tahun, meninggalkan warisan sebagai pekerja keras yang mewarnai fondasi sepak bola Indonesia.
Usai gantung sepatu, Elly tetap berada di dunia yang membesarkannya. Ia menekuni profesi pelatih dan menangani Persibom Bolaang Mongondow, Persita Tangerang, dan Persitara Jakarta Utara.
Selamat jalan legenda, jasamu akan selalu dikenang generasi selanjutnya!
